Gimana sih menanamkan karakter ke peserta didik?
SEDERHANA
NAMUN ESENSIAL
Velly Syafriani, S.Pd
guru IPA SMP N 47 Sijunjung, Kabupaten Sijunjung
Dalam
menjalankan tugas sebagai seorang pendidik kita memiliki kecenderungan tertentu
diantaranya, ada guru yang cenderung seperti juru taman yang membajak tanah dan
menanam benih-benih kecintaan untuk belajar, ada juga guru yang cenderung
seperti pengawal yang mengajari
anak-anak agar bisa berbagi dan bergaul dengan orang lain.
Saya
pribadi menilai diri saya lebih seperti pengawal yang mengajari anak-anak agar
bisa berbagi dan bergaul dengan orang lain. Namun bukan berarti saya tidak
pernah menanamkan benih-benih kecintaan untuk belajar. Guna mendukung
kesimpulan saya ini, saya akan uraikan beberapa peristiwa atau kejadian yang
menjadi kebiasaan saya saat mengajar di kelas maupun saat berinteraksi dengan
anak-anak di luar kelas.
Misalnya
saja, saat kegiatan belajar mengajar di kelas yang menuntut bekerja dalam
kelompok. Saya selalu tegaskan bahwa tidak ada yang pilih-pilih teman. Saya
juga punya trik tersendiri dalam menentukan kelompoknya. Sebagai contoh, saya
tebarkan potongan-potongan gambar bekas kalender lalu saya minta mereka
menyatukan potongan tersebut sehingga menemukan pasangan yang pas. Jika telah
bertemu pasangan yang pas, maka mereka satu kelompok. Mereka tidak boleh
menentukan sendiri anggota kelompoknya agar tidak ada teman yang merasa tersisihkan.
Jika ini ditanamkan dari awal maka akan mengurangi adanya geng-geng tertentu di
dalam kelas yang memicu perselisihan dan perpecahan.
Begitu
juga dalam pemanfaatan media atau alat pembelajaran. Seperti di sekolah saya
yang bermasalah dengan ketersediaan buku paket dan buku penunjang pembelajaran.
Tidak semua anak mendapatkan buku paket sebagai sumber belajar. Saya selalu
tekankan agar mereka saling berbagi. Meminjamkan teman yang tidak kebagian.
Tidak hanya itu, teman mereka yang butuh alat pembelajaran seperti pena, pensil
atau rol saya sarankan untuk saling meminjamkan dan tentu saja dibarengi dengan
nasehat agar bertanggung jawab terhadap barang teman yang dipakainya. Kalau
diawal telah ditanamkan seperti ini mereka akan terbiasa saling membantu. Hal
ini juga mengurangi tindak kecurangan di kelas seperti pencurian alat-alat
tulis yang memang marak dilakukan ana-anak kita belakangan ini. Faktor
pemicunya bisa saja karena yang memiliki banyak alat tulis, begitu pelit untuk
berbagi dan sekedar meminjamkan.
Dalam
pembelajaran saya juga sering memanfaatkan siswa yag tergolong pintar dalam
membantu teman-teman yang lain menjelaskan kembali materi pelajaran yang belum
dipahami. Bukan berarti memberi contekan. Tetapi menunjukkan
langkah-langkahnya. Biasanya dengan bahasa mereka mungkin lebih mudah dipahami
sehingga semua anak bisa paham. Selama ini selalu ada saja anggapan yang muncul
bahwa siswa yang pintar itu pelit, sehingga mereka dibenci siswa lain yang
memiliki kemampuan biasa saja. Guna menyatukan mereka tanpa ada jurang pemisah,
dilakukanlah trik ini.
Tidak
hanya saat pembelajaran di kelas, saat berinteraksi di luar kelas pun sedapat
mungkin saya selalu menanamkan sikap saling berbagi. Contohnya saat di kantin
pada jam istirahat. Mereka yang memiliki uang jajan yang banyak akan leluasa
memilih dan memborong jajanan yang mereka inginkan. Berbeda dengan yang uang
jajannya yang pas-pasan atau sama sekali tidak punya uang jajan. Di saat itulah
saya ingatkan mereka untuk membagi jajanan yang mereka punya dengan teman lain.
Saya juga katakan menikmati makanan bersama itu jauh lebih nikmat dibanding
sendiri-sendiri.
Terakhir,
saya selalu ingatkan mereka untuk bergaul dengan siapa saja yang ada di
lingkungan sekolah. Tidak boleh membedakan teman berdasarkan kelas atau
tingkatan kelas. Mereka berada di sekolah yang sama, berarti mereka satu
koloni.
Semuanya
yang saya terapkan terlihat sederhana, namun sangat penting dalam membentuk karakter
mereka kelak. Apa yang saya tanamkan tujuannya hanya satu, membangun pribadi
yang peduli dan tidak egois. Sebab kita begitu miris dengan kehidupan
akhir-akhir ini, yang telah kehilangan rasa kemanusiaan hanya demi kepentingan.
Komentar
Posting Komentar