GURU ARSITEK

GURU MERANCANG, PESERTA DIDIK MENEMUKAN

 

Velly Syafriani, S.Pd guru IPA SMP N 47 Sijunjung, Kabupaten Sijunjung

 

Pada dasarnya peran guru di dalam kelas itu multifungsi. Ada guru perancang, guru pengelola, guru pengarah, guru evaluator dan guru konselor. Dari sekian banyak peran guru ada dua kecendrungan yang dimiliki seorang guru berkaitan dengan perannya di dalam kelas. Opsi pertama, ada guru yang berperan sebagai pengatur lalu lintas udara, berusaha agar semua berada pada jalurnya dan mencegah tabrakan. Opsi kedua ada guru yang berperan sebagai arsitek, merancang lingkungan yang memungkinkan terjadinya penemuan-penemuan.   

 

Saya pribadi, sebagai seorang guru, merasa berperan seperti opsi kedua yaitu seorang arsitek di kelas. Dilihat dari asal katanya, arsitek adalah orang yang ahli dalam merancang. Dalam kaitannya dengan profesi guru, tentu arsitek dalam merancang pembelajaran. Seorang arsitek pembelajaran adalah orang yang mampu merencanakan pembelajaran dengan baik. Pembelajaran yang saya rancang juga memungkinkan terjadinya penemuan-penemuan bagi peserta didik saya.

 

Buktinya: pertama, sebelum memulai pembelajaran saya telah menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau RPP yang matang. Sehingga apa yang akan saya lakukan untuk peserta didik di kelas sudah ditata sedemikian rupa, bukan hanya sekedar meraba-raba. RPP yang saya buat benar-benar diterapkan, bukan pelengkap administrasi guru semata.

 

Kedua, RPP yang saya buat juga sudah dilengkapi dengan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik) yang berisi langkah-langkah dalam melaksanakan pembelajaran. LKPD yang saya susun tentu saja tidak dibuat sembarangan, langkah-langkahnya harus bisa dihamami dengan mudah oleh peserta didik. Pada mata pelajaran IPA sangat banyak materi yang sesuai untuk melakukan percobaan yang mengarahkan pada penemuan. Setelah mempersiapkan alat dan menugaskan peserta didik membawa bahan, selanjutnya mereka bekerja dengan berpedoman pada LKPD utuk menemukan hasil dari percobaan tersebut. Di sini peran peserta didik sangat dominan. Mereka bebas mengekspresikan apa yang akan mereka kerjakan, asalkan tetap berpedoman pada LKPD yang telah saya berikan.

 

Ketiga, saat kegiatan belajar di alam, yaitu lingkungan sekitar, saya juga memberi kebebasan kepada peserta didik untuk menemukan sendiri konsep-konsep yang berkaitan dengan materi dengan berpedoman pada langkah kegiatan yang telah saya siapkan.

 

Keempat, dalam menyimpulkan pembelajaran saya mendukung peserta didik untuk mencari informasi dari berbagai sumber. Lebih banyak pada jelajah literasi di perpustakaan. Di perpustakaan peserta didik bisa menemukan banyak buku sumber yang berkaitan dengan materi sehingga tidak terpaku hanya pada buku siswa. Sedangkan untuk tugas di rumah mereka bisa mencari materi dari internet atau bahan bacaan lainnya.

 

Kelima, setelah mereka melakukan percobaan dan menyimpulkan sendiri hasil yang mereka peroleh. Perwakilan masing-masing kelompok diberi tanggung jawab untuk menjelaskan apa yang mereka dapatkan sesuai hasil percobaan di depan kelas. Peserta didik dari kelompok lain juga dapat memberi sanggahan maupun pertanyaan. Di sini peran saya hanya sedikit meluruskan atau menguatkan apa yang telah mereka temukan. Selain itu dalam mengevaluasi pembelajaran saya juga berperan sebagai arsitek. Soal-soal yang akan diberikan kepada peserta didik saya rancang sendiri sesuai dengan indikator pembelajaran. Saya juga mulai memberikan soal-soal yang sifatnya tidak hanya hafalan namun menuntut pemikiran kritis dari peserta didik.  Jadi jelaslah bahwa di sini peran guru hanya merancang dan yang bertugas menemukan adalah peserta didik. Dengan konsep peran seperti ini, diharapkan apa yang di dapatkan peserta didik menjadi lebih bermakna, karena ilmu tidak hanya sebatas hafalan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA JADINYA JIKA UN DITIADAKAN?

PTK IPA ” Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik dengan Menggunakan Media Booklet pada Mata Pelajaran IPA Kelas VII 2 Semester 2 di SMP N 47 Siunjung tahun 2015”

Artikel Pendidikan Keluarga