Profesionalitas guru di masa pandemi
TETAP PROFESIONAL DI BERAGAM SITUASI
Velly Syafriani, S.Pd, guru IPA SMP N 47 Sijunjung, Kabupaten
Sijunjung
Pembelajaran
tahun ajaran baru telah dimulai, pemerintah menetapkan proses pembelajaran yang
berbeda-beda, sesuai zona masing-masing daerah. Untuk daerah dengan zona hijau
dapat melakuan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat,
sedangkan untuk zona lainnya melakukan pembelajaran melalui daring atau luring.
Karena kondisi yang berbeda maka ada banyak penyesuaian yang perlu dilakukan
guru di masa pandemi ini terutama perihal ketercapaian kurikulum.
Sebab
itu saya berpendapat bahwa, kita sebagai seorang guru harus mampu membuat
terobosan baru agar taget kurikulum tetap tercapai meskipun berada dalam kondisi
yang lain dari biasanya. Target capaian kurikulum untuk masa pandemi ini tentu
juga berbeda, guru tidak perlu memaksakan semua kompetensi dasar harus tercapai
sempurna. Hal ini senada dengan isi Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020
yang salah satu poinnya menyatakan bahwa, belajar dari rumah melalui
pembelajaran daring atau jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman
belajar yang bermakna bagi peserta didik tanpa terbebani tuntutan menuntaskan
seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.
Jadi, pembelajaran di saat pandemi ini tidak melulu
hanya mengejar ketersampaian kompetensi dasar. Sehingga setiap tugas yang
diberikan tidak dalam bentuk soal dan soal saja yang akan membuat peserta didik
merasa bosan dan terbebani. Akan tetapi harus diarahkan pada pembelajaran
bermakna. Maka kreativitas guru untuk merancang pembelajaran bermakna tersebut
sangat diharapkan. Guru harus mencari model yang paling pas untuk pembelajaran
bermakna. Salah satu contohnya mungkin guru bisa memakai model pembelajaran Projec Based Learning (PjBL) ataupun
model lainnya yang relevan.
Hal itu karena saat ini peserta didik membutuhkan ilmu
terapan terutama berkaitan dengan cara agar mereka dapat beradaptasi terhadap
tatanan baru. Di tingkat SD guru bisa mengaitkan pembelajaran dengan pola hidup
bersih yang harus dilakukan peserta didik agar tidak terjangkit virus. Di
tingkat SMP dan SMA guru IPA bisa saja merancang proyek pembuatan sabun
pembersih tangan dari bahan alami yang ada disekitar rumah mereka atau bagi
peserta didik yang hobi menjahit guru prakarya bisa merancang pembelajaran
pembuatan masker dari kain perca. Semua tergantung kreativitas guru, bagaimana
supaya semua pembelajaran yang berlangsung dapat bermanfaat bagi peserta didik.
Guru harus terus berinovasi agar pembelajaran tetap terasa menyenangkan bagi
peserta didik meski dalam kondisi serba tidak biasa.
Fleksibelitas pembelajaran selama pandemi ini
sebenarnya adalah tantangan bagi seorang guru. Dari sini akan terlihat mana
guru yang benar-benar profesional dengan tugasnya dan mana yang tidak. Bisa
juga dikatakan, mana guru yang mau berbuat dan mana yang tetap diam tidak
melakukan perubahan apa-apa. Seharusnya sebagai seorang yang professional guru
harus bisa menyesuaikan diri dengan beragam situasi. Tidak boleh mengeluh
apalagi menghindar. Segala tantangan dan perubahan yang datang harus tetap
dijawab.
Jadi apapun kondisinya guru harus selalu siap sedia.
Mengerahkan setiap kemampuan untuk tetap berbuat maksimal. Tidak boleh pasrah
dengan keadaan dan tetap terus belajar demi peserta didik. Karena guru harus
selalu berpegang teguh pada tugas dan fungsinya, mencerdaskan anak-anak bangsa,
apapun keadaanya.
Komentar
Posting Komentar