TINGHAK NAKAL SAAT SEKOLAH DULU

TINGKAH NAKALKU YANG MEMBUAT EMOSI GURU

Velly Syafriani, guru IPA SMP N 47 Sijunjung, Kabupaten Sijunjung

 

              Layaknya anak-anak yang belum dewasa, terkadang saya juga melakukan perbuatan yang mungkin membuat guru saya waktu SMP dulu merasa jengkel, marah dan jijik. Ada beberapa kenakalan yang saya lakukan yang masih berkesan bagi saya hingga sekarang. Kala saya mengingat kejadian itu, saya menjadi senyum-senyum sendiri. Ternyata dahulu saya pernah senakal itu.

              Kejadian pertama, saya sengaja meneteskan obat merah di jempol jari kaki saya dan saya balut dengan perban saat mata pelajaran olahraga. Saya mendramatisir seolah-olah jempol kaki saya sedang luka. Tujuannya adalah agar saya terhindar dari lari keliling lapangan yang merupakan rutinitas pemanasan sebelum olahraga dimulai. Saat SMP saya paling tidak suka mata pelajaran olahraga. Sesuai rencana, saat melapor kepada guru olahraga saya diizinkan untuk tidak ikut lari keliling lapangan. Saya hanya disuruh duduk di pinggir lapangan sambil mengamati teman-teman saya yang lain berlari 3 kali putaran. Pada waktu itu saya merasa bangga bisa mengelabui guru.

              Kejadian kedua, saat saya bosan dengan penjelasan guru mengenai rumus-rumus fisika, saya mencari kesibukan sendiri. Kesibukan yang bisa membuat saya bisa melalui waktu yang terkesan lambat berputar saat saya dilanda kebosanan. Seperti waktu itu, saya baru saja terjatuh dari sepeda sehingga mendapatkan luka dibagian siku. Luka saya hampir mengering sehingga menimbulkan koreng. Demi terhindar dari rasa bosan,  saya mengalihkan perhatian ke koreng yang ada di siku saya. Untuk beberapa saat saya asyik mengelupaskan sel kulit mati yang ada di sekitar luka saya. Karena perhatian telah teralihkan, otomatis saya tidak menyimak apa yang sedang dijelaskan guru saya di depan kelas.

              Kejadian ketiga, saya makan mi instan mentah saat ulangan harian agama. Waktu SMP saya suka sekali jajan mi instan dan dimakan mentah. Saat itu selepas istirahat, kami akan mengadakan ulangan agama. Mi instan yang saya beli masih tersisa. Saya menyimpannya di dalam laci meja. Ketika guru telah membagikan soal ulangan, aroma bumbu dari mi instan yang masih tersisa yang ada di laci meja saya mengusik indra penciuman. Otak saya memerintahkan tangan untuk mencomot mi yang ada di laci untuk dimakan diam-diam. Dalam aturan sekolah, memang ada larangan makan saat jam pelajaran. Posisi duduk saya juga mendukung untuk melakukan itu, karena saya duduk di kursi paling belakang. Kebetulan juga guru saya sedang duduk di kursinya dan sepertinya tidak mengarahkan pandangannya ke arah kami. Saya terus menikmati kegiatan makan diam-diam itu meskipun teman di sebelah saya memperingatkan agar berhenti. Tetapi saya tetap tidak berhenti karena yakin bahwa guru tidak melihat saya.

              Sebenarnya masih banyak kejadian lain yang pernah saya lakukan yang mungkin membuat guru saya jengkel. Sekarang, setelah akhirnya saya berada pada posisi itu. Saya juga menjadi seorang guru. Ketika saya tahu ada siswa yang berusaha mengelabui saya guna memuluskan rencana mereka, contohnya saja mereka sengaja meninggalkan buku catatan di tolet saat ujian, lalu mereka akan minta izin ke toilet untuk buang air kecil, padahal mereka melihat catatan, rasanya kesal luar biasa. Mungkin itu jugalah yang dirasakan guru saya dahulu. Begitu juga pada saat sedang menjelaskan materi pelajaran di depan kelas, ada siswa yang sibuk dengan aktivitasnya yang lain sehingga tidak memperhatikan saya, rasanya sungguh sakit. Dan sekarang saya juga tahu, ketika duduk di meja guru yang posisi lantainya sedikit lebih tinggi, dari sana kita bisa melihat apapun yang dilakukan siswa bahkan siswa di deretan paling belakang. Tidak ada yang bisa disembunyikan.

              Mengingat semua kejadian itu terkadang membuat saya ingin meminta maaf kepada mereka, para guru saya. Guru yang telah banyak berjasa mendidik saya. Berkat jasanya saya bisa seperti sekarang ini. Semoga apa yang telah diperbuat semua guru saya di masa lalu dalam mendidik saya, menjadi ladang amal untuk mereka. Maafkan anakmu ini wahai guru, semoga selalu ada kemudahan disetiap keinginan yang ingin engkau wujudkan.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA JADINYA JIKA UN DITIADAKAN?

PTK IPA ” Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik dengan Menggunakan Media Booklet pada Mata Pelajaran IPA Kelas VII 2 Semester 2 di SMP N 47 Siunjung tahun 2015”

Artikel Pendidikan Keluarga