Artikel Ilmiah IPA " Kartu Arisan"
Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Melalui Model
Pembelajaran Kartu Arisan
pada Peserta Didik Kelas VIII
Di SMP N 47 Sijunjung

Velly Syafriani
Guru IPA pada SMP N 47 Sijunjung
ABSTRACT:
If teaching and learning proses is clumsy and bore, the
students are not attracted to study. This problem can make learning
achievement is low. To solve
this problem the writer applied one of teaching model by using” Saving Club
Card”. This model can make students enjoy the study.The model use was a
classroom action researce in which consisted of two cycle. Each cycle involved
four stage: planning, acting, abserving and reflecting. The instrumentation use
small test or quiz and last result test. The result of the researce showed that
the learning achievement of students is improved and student can enjoy the study.
Key words: learning achievement and ”Saving Club Card” Model
A.
PENDAHULUAN
Dalam proses
pembelajaran peserta didik diharapkan mampu menumbuhkan fikiran kritis, kreatif
dan inovatif. Sebagaimana tertuang dalam SKL mata pelajaran Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi menurut Permen Nomor 23 Tahun 2006 diantaranya adalah:
1.
Membangun dan
menerapkan informasi, pengetahuan, dan teknologi secara logis, kritis, kreatif,
dan inovatif
2.
Menunjukkan
kemampuan berfikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif secara mandiri
3.
Menunjukkan
kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri
Namun, ada hal yang
lebih penting diterapkan dalam proses belajar mengajar yaitu pembelajaran yang
menyenangkan yang membuat peserta didik merasa menikmati dan tidak terbebani
dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,
Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) adalah pembelajaran yang sedang digalakkan
pemerintah belakangan ini. Menurut Sulhan (2010:49) PAIKEM berorientasi pada
proses dan tujuan. Orientasi proses dalam PAIKEM adalah untuk meningkatkan
motivasi belajar, kemandirian dan tanggung jawab peserta didik. Ada berbagai
macam model pembelajaran yang berbasiskan PAIKEM. PAIKEM ini diharapkan akan
membuat peserta didik merasa senang untuk belajar, tidak terbebani dan
menikmati pembelajaran yang diberikan. Hal ini akan berdampak pada hasil
pembelajaran yang diperoleh. Sebab kalau sesuatu dilakukan dengan senang hati
maka hasilnya akan lebih maksimal.
Namun kenyataan yang dialami peserta
didik di SMP N 47 Sijunjung, masih banyak yang merasa terbebani pada saat
pembelajaran, karena materi yang dikemas tidak menarik dan model pembelajaran
yang tidak pernah dirobah sehingga menimbulkan kebosanan. Menurut Nuryani (2005:4)
agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan optimal maka guru perlu membuat
strategi belajar-mengajar. Dan meteri yang berbeda akan memerlukan strategi
yang berbeda pula.
Dari wawancara yang penulis lakukan
dengan beberapa orang peserta didik mereka mengaku ketidaktuntasan mereka
disebabkan karena mereka merasa tidak menyenangi dan terbebani dengan
pembelajaran. Bahkan ada beberapa peserta didik yang mengaku sangat bergembira
ketika guru yang mengajar tidak dapat hadir, sebab mereka merasa terbebas dari
beban belajar.
Jika hal tersebut dibiarkan
terus-menerus maka akan berdampak langsung pada hasil belajar yang diperoleh
peserta didik. Hal ini terbukti dengan hasil Ujian Akhir Semester hanya sekitar
40% peserta didik yang mencapai batas Kriteria Keruntasan Minimal (KKM).
Oleh karena itu, penulis sebagai salah
seorang guru IPA di SMP N 47 Sijunjung merasa perlu mengatasi permasalahan
tersebut. Salah satu starategi yang akan penulis gunakan untuk menciptakan
pembelajaran yang menyenangkan dan meningkatkan ketunatasan belajar peserta
didik adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang berbasiskan PAIKEM.
Menurut Mulyasa (2009:69) dengan pelayanan maksimal diharapkan akan tercipta
iklim belajar dan pembelajaran yang nyaman, aman, tenang dan menyenangkan (joyfull teaching and learning) yang
mampu menumbuhkan semangat, gairah dan nafsu belajar peserta didik sehingga
dapat mengembangkan dirinya secara optimal.
Model pembelajaran yang akan penulis
gunakan adalah model pembelajaran Kartu Arisan. Menurut Yufiarti (2009: 83) belajar konsep, fakta dan prinsip sangat
bergantung pada apa yang diajarkan. Biasanya dikelola oleh otak sebelah kiri,
seringkali informasi seperti ini kurang menarik hati peserta didik dan
dihafalkan saja untuk ujian sehingga menjadi pengetahuan sesaat. Oleh karena
itu guru harus mampu menciptakan suatu model pembelajaran yang dapat mengemas
materi menjadi lebih menarik
Model pembelajaran Kartu Arisan adalah
model pembelajaran yang menggunakan media kartu. Kartu yang digunakan terdiri
atas dua jenis yaitu kartu soal dan kartu jawaban. Kartu jawaban akan dibagikan
kepada masing-masing peserta didik, sedangkan kartu soal akan digulung dan
dimasukkan kedalam kotak. Seperti pada permainan arisan, kartu soal akan
diaduk-aduk dan setelah itu diambil satu kartu soal. Soal dibacakan dan peserta
didik yang memegang kartu jawaban akan menjawab soal tersebut.
Pembelajaran ini akan semakin menarik
karena peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok dan skor masing-masing
kelompok akan dijumlahkan. Diakhir pembelajaran kelompok yang memperoleh skor
tertinggi akan mendapatkan penghargaan
Rumusan
masalahnya penelitian ini adalah: “Apakah model pembelajaran Kartu Arisan dapat
meningkatkan hasil belajar peserta didik
pada kelas VIII di SMP N 47 Sijunjung?
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini
adalah untuk mengetahui apakah model
pembelajaran Kartu Arisan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada
kelas VIII di SMP N 47 Sijunjung
B. METODE
PENELITIAN
Subjek dalam PTK ini adalah peserta didik kelas VIII SMP N 47 Sijunjung.
Penentuan kelas ini berdasarkan tingkat hasil ujian semester 1 mereka pada
kelas VII yang rata-ratanya jauh dari KKM. Waktu penelitian ini adalah pada semester I tahun pelajaran
2013/2014 yang dimulai pada tanggal 11 September sampai tanggal 2 Oktober 2013.
Penelitian tindakan
kelas ini menggunakan model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc. Teggart,
terdiri dari dua siklus tiap siklus terdiri atas perencanaan (plan), tindakan (action),
pengamatan (observation), dan perenungan (reflection).
Tabel 1. Jadwal
kegiatan pelaksanaan tindakan (action)
|
Siklus |
Pert
Ke /Tanggal |
Materi |
Evaluasi |
|
I |
Pert 1 /11-10-2013 |
Sistem Pencernaan pada
Manusia -Makanan dan Fungsinya |
Penilaian
kuis 1 |
|
Pert 2 /17-10-2013 |
Sistem Pencernaan pada
Manusia -Saluran pencernaan -Kelainan pada sistem pencernaan |
Penilaian
kuis 2 |
|
|
18-10-2013 |
Tes 1 |
Penilaian hasil
Tes1 |
|
|
II |
Pert 1 /24 -11-2013 |
Sistem Pernafasan pada
Manusia |
Penilaian
kuis 1 |
|
Pert 2 /25-11-2013 |
Sistem Peredaran Darah pada
Manusia -
Jantung dan
pembuluh darah |
Penilaian
kuis 2 |
|
|
Pert 3 /24-11-2012 |
Sistem Peredaran Darah pada
Manusia - Darah - Keainan pada Sistem
Peredaran Darah |
Penilaian
kuis 3 |
|
|
2-11-2013 |
Tes 2 |
Penilaian hasil
Tes 2 |
Data
yang diperoleh dari kuis dan tes diakhir siklus dicari rata- ratanya dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
X![]()
Dengan:
X = nilai rata- rata kuis atau
tes
x = jumlah nilai
peserta kuis/tes
N=jumlah peserta kuis atau tes (Arikunto, 1997: 271).
Untuk mengukur penilaian hasil belajar dari hasil tes
dilakukan analisis dengan menggunakan Kriteria Ketuntasan belajar Minimal (KKM)
yaitu:
a.
Peserta
didik dikatakan tuntas belajar jika peserta didik tersebut telah menguasai 80%
dari materi yang diuji.
b.
Peserta
didik dikatakan tuntas belajar secara klasikal jika 85% dari seluruh pengikut
tes sudah menguasai 80% materi yang diajar
C. HASIL
PENELITIAN
Hasil kuis
yang diperoleh pada siklus 1 yaitu pada pertemuan pertama dan kedua dapat
dilihat pada grafik 1 berikut:

Grafik 1.
Rata-rata hasil kuis siklus 1
Dari
Grafik diatas terlihat bahwa ketuntasan belajar secara klasikal belum tercapai,
namun rata- rata kelas secara bertahap memperlihatkan peningkatan sejak
pertemuan pertama hingga kedua. Setelah pertemuan kedua diadakan tes untuk
melihat penguasaan peserta didik terhadap materi pelajaran mulai dari pertemuan
pertama hingga pertemuan kedua. Hasil tes pertama
menunjukkan rata-rata kelas mencapai 84,23. Namun ada 6 orang peserta didik
yang tidak tuntas. Dari wawancara yang dilakukan dengan peserta didik ternyata
hal ini disebabkan oleh waktu yang diberikan untuk diskusi dalam kelompok
terlalu singkat.
Untuk siklus ke 2 waktu untuk
diskusi kelompok diperpanjang, sehingga peserta didik menjadi lebih memahami
materi sebelum menjawab kartu soal. Hasil kuis pada siklus ke 2 yang terdiri
dari tiga pertemuan dapat dilihat pada grafik 2 berikut ini:

Grafik 2. Rata-rata
hasil kuis siklus 2
Dari Grafik di atas
terlihat bahwa hingga pertemuan ketiga hasil belajar telah menunjukkan
peningkatan bila ditinjau dari ketuntasan hasil belajar secara klasikal dan
rata-rata kelas. Setelah pertemuan ketiga diadakan tes kedua dan diperoleh
hasil rata-rata kelas 93,55 dan peserta didik yang tidak tuntas hanya 1 orang.
Hal ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar peserta didik. Peningkatan
hasil tes pada siklus 1 dan 2 dapat dilihat pada grafik berikut ini:

Grafik
3. Rata-rata hasil tes siklus 1dan 2
D. PEMBAHASAN
Dalam
penelitian ini, hal yang dibahas adalah hasil belajar peserta didik dengan
menggunakan model pembelajaran Kartu Arisan. Hasil belajar tersebut diamati
dari hasil kuis pada setiap pertemuan dan hasil tes diakhir setiap siklus. Hasil
kuis pada siklus pertama menunjukkan bahwa hasil belajar belum tuntas secara
kalsikal.
Hasil tes
pertama juga menunjukkan hasil yang kurang baik dimana ada 6 orang peseta didik
yang mendapatkan nilai dibawah KKM dan rata-rata kelas hanya 84,23. Untuk meningkatkan hasil belajar
peseta didik, pada siklus berikutnya alokasi waktu untuk diskusi dalam kelompok
diperpanjang, sehingga masing-masing peserta didik merasa lebih siap untuk
menjawab kartu soal.
Pada siklus kedua rata-rata hasil kuis menunjukkan
peningkatan, dan ketuntasan belajar klasikal juga telah tercapai. Hasil tes
diakhir siklus kedua juga menunjukkan peningkatan, hanya 1 orang peserta didik
yang tidak tuntas dan rata-rata kelas mencapai 93,55.
E. KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan
maka dapat disimpulkan bahwa: model pembelajaran Kartu Arisan dapat
meningkatkan hasil belajar peserta didik pada kelas VIII di SMP N 47 Sijunjung.
F. SARAN
Dengan selesainya penelitian ini, maka penulis
mengemukakan saran- saran sebagai berikut:
1. Mengatur
alokasi waktu untuk setiap langkah model pembelajaran Kartu Arisan
2. Melakukan
model pembelajaran Kartu Arisan pada materi lainya
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar- Dasar Evaluasi Pendidikan.
Bandung: Bina Aksara.
Nuryani. 2005. Strategi
Belajar Mengajar Biologi. Malang : UNM
Mulyasa. 2009. Standar
Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset
Sulhan, Najib. 2010. Pembangunan
Karakter pada Anak. Surabaya: SIC
Yufiarti. 2009. Penerapan
Pembelajaran pada Anak. Jakarta: Indeks
Komentar
Posting Komentar